FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Bangsa yang Besar Tak Meninggalkan Basic Science

Negara yang besar dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya tidak pernah meninggatalkan basic science. Masih banyak orang yang memiliki cara pandang yang keliru terhadap basic science. Hal tersebut disampaikan oleh Pembantu Dekan II FPMIPA UPI Wawan Setiawan dalam penutupan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2014 bagi Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Provinsi Jawa Barat, di Auditorium FPMIPA UPI, Rabu (28/5/14).

“Kita sering kali berpikir, apa kegunaan basic science, untuk apa kita belajar basic science. Kita hanya berpikir, lebih baik mempelajari teknologi secara langsung dibandingkan harus mempelajari basic science. Kita harus ingat, bahwa basic science merupakan dasar dalam meningkatkan kemampuan teknologi suatu negara, dan negara maju seperti Eropa tidak pernah mengabaikan basic science,” papar Wawan Setiawan.

Secara umum KSM merupakan ajang kompetisi bidang sains yang diikuti oleh para siswa tingkat MI, MTs, dan MA se-Jawa Barat. Untuk tingkat MI, KSM diselenggarakan di FPMIPA UPI yang merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Agama dengan FPMIPA UPI, yang diselenggarakan pada26-28 Mei 2014. Peserta KSM tingkat MI tahun 2014 ini berjumlah 156 siswa dari 26 Kabupaten/Kota. Masing-masing Kabupaten/Kota mengirimkan 6 peserta dalam kompetisi tersebut.

Tema yang diangkat dalam KSM MI Jawa Barat 2014 tersebut yaitu “Dengan KSM Kita Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kekuatan Iman, Ilmu, dan Amal secara Seimbang serta Kemampuan Kompetitif, Hidup Kreatif, Berjiwa Inovatif, dan Berkelanjutan”. Bidang yang dilombagakan untuk MI ini meliputi Lomba Baca Tulis dan Hitung (Calistung) untuk Kelas 1, 2 dan 3, Pendidikan Agama Islam, Matematika dan IPA.

Sebagai salah satu mitra Kementerian Agama dalam penyelenggaraan KSM 2014, Wawan Setiawan juga mengucapkan terima kasihnya atas kerjasama dalam menjaga ketertiban selama kegiatan KSM berlangsung. Ia juga memberikan motivasinya kepada siswa MI yang telah mengikuti KSM 2014. “Kalian para siswa yang hadir di sini adalah para pemenang, urusan dipanggil namanya sebagai juara hanyalah urusan kesempatan semata,” ucapnya.

Ketua MK2MI Jawa Barat Muntahar mengungkapkan, bahwa awalnya dirinya ragu terhadap keikutsertaan kelas 1 MI mengikuti kompetisi tersebut. “Karena didukung dan dimbing oleh orangtua dan guru, ternyata mereka bisa mandiri,” imbuh Dah Saefullah.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agarama Jawa Barat, Dah Saepullah, menegaskan kepada para pendidik agar terus membimbing para siswanya untuk terus menorehkan prestasi. “Saya berharap, para juara yang diumumkan kali ini bukan hanya berprestasi di tingkat Provinsi Jawa Barat, tapi juga di tingkat nasional,” tuturnya.(Rdn)