FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Game Dunia Hidrokarbon, Membuat Siswa Tertantang

CoursewareDunia Hidrokarbon memungkin siswa SMA kelas 1 belajar kekhasan atom karbon, tata nama, struktur kekule, rumus molekul dan isomer senyawa golongan alkana, alkena, dan alkuna dalam bentuk game yang menarik, menegangkan dan menantang.

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan yang diutarakan oleh seorang dosen Kimia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr. Ijang Rohman, M.Si., dalam pengajuan karya media pembelajaran Kimia ke Kementerian Hukum dan HAM RI untuk mendapatkan hak cipta. Karyanya pun memenuhi persyaratan dan ditandatangani oleh Direktur Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang, pada 14 Maret 2014.

Ijang Rohman menjelaskan, bahwa program tersebut dirancang khusus bagaimana siswa dapat memahami dengan mudah senyawa hidrokarbon lewat sebuah permainan. “Pada game tersebut, siswa diberikan tantangan untuk menyusun senyawa kimia sehingga dapat membentuk suatu pola berbentuk rumus senyawa,” terangnya.

Gametersebut sebelumnya sudah diuji coba di SMA 16 dan SMA Labschool UPI. Hasilnya, para guru Kimia merasa terbantu karena tidak perlu repot lagi menjelaskan struktur senyawa Kimia pada siswa. Para guru Kimia, kata Ijang Rohman, hanya cukup memfasilitasi dan mengawasi siswa. “Tapi tetap tidak mengurangi tugas guru dalam mengajar,” ujarnya.

Tak hanya guru, game Dunia Hidrokarbon juga mendapatkan sambutan yang positif dari siswa. “Game ini membuat siswa tertarik dan cepat memahami pelajaran Kimia, khususnya tentang Hidrokarbon,” tutur Ijang Rohman.

Menurut Ijang Rohman, keuntungan lainnya pada siswa adalah siswa dapat menemukan rumus senyawa dan bisa mengambil keputusan dengan cepat. “Perlu logika untuk memainkan game ini agar bisa berjalan,” jelasnya.

Hak Cipta, Investasi Jangka Panjang

Awalnya Ijang Rohman tidak berpikir untuk mendaftarkan karyanya ke Kementerian Hukum dan HAM. Karena pernah pengalami pengalaman buruk dalam soal pembajakan karya media pembelajaran, maka ia pun berpikir untuk mendaftarkannya. Pendaftaran ciptaan juga didorong oleh Pimpinan FPMIPA UPI dan Jurusan Pendidikan Kimia.

Ia mengatakan bahwa, membuat suatu produk tidak mesti harus berorientasi pada nilai ekonomi. “Jangan dulu berpikir mendapatkan keuntungan ekonomi untuk membuat suatu produk, tapi bagaimana produk yang kita buat bisa mendapatkan pengakuan. Itu dulu yang terpenting karena produk kita tidak hanya dimanfaatkan saat ini, tapi bersifat jangka panjang,” terang Ijang Rohman.

Menurutnya, pengakuan merupakan suatu bentuk kepercayaan karena produk yang dibuat tidak asal-asalan, ada manfaat yang didapat. “Selain memberi keuntungan kepada diri sendiri, hak cipta suatu produk juga membawa nama lembaga, dan itu menjadi credit point bagi lembaga,” tegasnya.(Rdn)