FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Komunitas Riset, Melahirkan Pemikiran Mahasiswa yang Orisinil

Di Jepang, seminar tidak hanya digambarkan sebagai suatu kegiatan yang besar dan dihadiri oleh ratusan peserta. Seminar yang sifatnya rutin juga bisa terselenggara meski hanya dihadiri oleh 10 orang. Hal itulah yang membuat Prof. Dr. Didi Suryadi— dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) UPI, yang juga Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI—menggagas sebuah komunitas kecil khusus dunia riset.

Gambaran seminar kecil yang rutin diselenggarakan di Jepang itu ia amati pertama kali saat dirinya berkunjung ke Jepang tahun 2000. “Setelah saya amati, kenapa tidak saya terapkan dan kembangkan di Indonesia untuk membentuk komunitas riset,” ujar dosen yang mengajar Matematika di kampus UPI ini saat ditemui di SPs UPI, Jumat (2/4/14).

Sekembalinya dari Jepang, Didi Suryadi pun membentuk komunitas riset bersama rekan dan mahasiswanya di FPMIPA UPI meski komunitasnya terbilang kecil saat itu. “Saat pertama kali, membentuk komunitas riset di sini sangat sulit karena pertemuan harus dilakukan secara rutin. Namun setelah sekian lama, komunitas ini berkembang dan menjalar ke beberapa perguruan tinggi dan sekolah-sekolah,” tutur Didi Suryadi.

Komunitas yang dibentuknya menarik perhatian dari Gumma University Jepng, sehingga orang Jepang pun kini banyak terlibat dalam komunitasnya. Ia bersama anggota komunitas risetnya melakukan pertemuan sebulan sekali, bahkan lebih dari itu. “Komunitas riset dari Jepang itu hanya inspirasi, artinya tidak persis sama karena sudah saya adaptasi di Indonesia,” ujarnya.

Manfaat dari komunitas ini, lanjut Didi Suryadi, adalah munculnya pemikiran-pemikiran mahasiswa yang orisinal. “Karena setiap hasil riset yang dilakukan, baik oleh guru, dosen maupun mahasiswa digali di komunitas riset ini dengan diskusi-diskui yang kami lakukan,” kata Didi Suryadi. Ia tak sendirian dalam mengembangkan komunitas riset ini karena dibantu oleh dosen dari Gumma University Jepang yaitu Takashi Itoh dan rekannya di FPMIPA yaitu Rizky Rosjanuardi (dosen matematika UPI).

Bahkan, saat ini ia bersama anggota komunitas risetnya akan mendirikan sebuah institut yang diberi nama d’Suryadi Institute. “Sebenarnya komunitas ini tidak bisa dipisahkan dengan metode DDR, kedua-duanya merupakan satu kesatuan, DDR sebagai tool-nya sementara komunitas riset ini sebagai wadahnya,” terang Didi Suryadi.

Seperti halnya metode riset DDR, model komunitas riset ini juga ia daftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual. Pada 24 Februari, keluarlah sertifikat HKI dengan judul ciptaan “A Model  of A Mathematics Research Community in The Context of Indonesian Higher Education”. ”Meski model ini diterapkan dalam komunitas riset matematika, tapi bisa diterapkan juga di luar bidang matematika,” imbuhnya.(Rdn)