FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Metode DDR Telah Memunculkan Optimismenya

Metode Didactical Design Research (DDR) yang telah menarik perhatian dunia akademik dan praktisi pendidikan sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap penciptanya—salah satu dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) UPI, yang juga Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed. Hal ini karena, DDR pernah diklaim oleh pihak tertentu dan sudah diterbitkan dalam sebuah jurnal ilmiah.

Untung saja pengklaiaman oleh pihak lain diketahui oleh Didi Suryadi, lalu dilaporkan ke Dirjen Dikti. Kasus inipun ditindaklanjuti ke pihak yang mengklaim dan perguruan tinggi yang bersangkutan. “Tulisan dan isinya benar-benar persis dengan metode DDR yang saya tulis, hanya diganti namanya saja. Kejadian ini bermula saat saya melakukan bimbingan kepada mahasiswa, dan bukan nama saya yang tercantum pada sumber referensinya,” tutur Didi Suryadi saat ditemui di SPs UPI, Jumat (2/4/14).

Atas kekhawatiran itulah, ia mendaftarkan ciptaannya ke Kementerian Hukum dan HAM RI untuk mendapatkan sertifikat Hak Kekayaan Intenlektual (HKI). Pada 24 Februari 2014, hak cipta metode riset DDR atas nama Didi Suryadi keluar dengan judul ciptaan “Didactical Design Research (DDR) to Improve The Teaching of Mathematics”.

Tak heran “pencurian” DDR terjadi karena metode riset ini telah banyak mengalami kemajuan yang cukup pesat. Didi Suryadi memaparkan, DDR lahir dari suatu proses yang panjang—sejak tahun 2000—yang diawali dengan pengkajian terhadap pemikiran Brouseau dari Prancis yakni Teori Situasi Didaktis serta pemikiran Kansanen dari Finlandia tentang Teori Didaktical Triangle. Kedua teori tersebut, lanjutnya, secara bertahap dikaji dan dipahami dalam konteks pembelajaran di Jepang dan Indonesia melalui kegiatan Lesson Study.

Berbagai studi dilakukan secara terus menerus dalam konteks lesson study dan diskusi intensif dengan para ahli pendidikan Jepang. Pada 2007, dirumuskanlah sebuah teori baru yang disebut metapedadidaktik.  “Metapedadidaktik merupakan suatu teori yang menjelaskan hubungan tripartit Guru-Siswa-Matematika dalam konteks pembelajaran,” tutur Didi Suryadi. Teori ini dijelaskan pertama kali kepada publik melalui pidato pengukuhan guru besarnya tahun 2009 di UPI.

Didi Suryadi mengutarakan, sejak teori metapedadidaktik dirumuskan, pengkajian dan penelitian terus berlanjut. Tahun 2010, ia  berhasil merumuskan sebuah metodologi penelitian baru yang  disebut dengan penelitian desain didaktis atau Didactical Design Research (DDR). Gagasannya pertama kali disampaikan dalam sebuah seminar nasional di Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2010.

Dalam seminar tersebut, DDR berhasil menarik perhatian banyak orang termasuk seorang mahasiswa S3 pendidikan Biologi UM. “Disertasinya menggunakan DDR-Suryadi sebagai pendekatan untuk mengembangkan model bahan ajar biologi,” kata Didi Suryadi. Sejak peluncuran itu, banyak pihak yang  meminta penjelasan mengenai DDR melalui berbagai seminar dan konferensi, antara lain dalam konferensi nasional matematika di UNIMA Manado (2011), Konferensi Nasional di Unpad (2012), dan konferensi Nasional Pendidikan Matematika di UM tahun 2013.

Didi Suryadi juga menceritakan kemajuan DDR yang telah menjalar ke berbagai perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. “Sosialisasi DDR juga dilakukan melalui seminar nasional diberbagai universitas nasional seperti di UNSRI, UNESA, UIN Pekanbaru, Universitas Negeri Gorontalo, UNY, UNNES, dan di UPI sendiri. Di tingkat internasional DDR telah disampaikan di Malaysia, Jepang, dan Jerman,” kata Didi Suryadi.

Pada Desember 2013, Ho Chi Minh University Vietnam meminta dirinya untuk menyampaikan DDR dalam sebuah konferensi CRME. “Pada November 2014 ini, DDR kembali akan disajikan sebagai salah satu makalah kunci dalam World Association of Lesson Study (WALS), dimana UPI bertindak sebagai tuan rumah,” tuturnya. Tahun lalu, WALS diselenggarakan di Swedia.

Bagi Didi suryadi, perjalanan metode riset DDR hingga kini semakin menumbuhkan rasa optimisme untuk terus berkembang. “Hal ini antara lain ditandai dengan banyaknya pihak yang tertarik untuk mempelajari DDR lebih mendalam,” ujarnya. Contohnya adalah, sambung Didi Suryadi, kunjungan seorang dosen muda dari Tokyo University, Jepang, diskusi langsung tentang DDR yang sudah dilakukan dua kali, lalu dilanjutkan dengan penelitian bersama mengacu pada pandangan terhadap DDR.

Penerapan prinsip-prinsip DDR dalam pembelajaran secara bertahap telah diperkenalkan kepada para guru di SD Gagas Ceria sebagai bagian dari proses professional developement. Hasil dari kegiatan tersebut telah disampaikan dalam sebuah konferensi internasional WALS di Swedia tahun 2013 oleh empat orang guru. “Presentasinya telah berhasil menarik perhatian para ahli dari Eropa termasuk seorang ahli Lesson Study Amerika Serikat, Catrine Louise,” terangnya.

Didi Suryadi menyampaikan, tahun 2014 ini Dinas Pendidikan Kota Bandung meminta untuk menyebarkan DDR ke seluruh SD di lingkungan Kota Bandung. Untuk tahap awal telah dilaksanakan workshop selama tiga hari pada 22, 27 Februari dan 4 Maret 2014. “Yang menyampaikannya adalah guru dan Kepala Sekolah dari 21 SD,” ucap Didi Suryadi. Selain kepada SD, Dinas Pendidikan Kota Bandung juga berkeinginan untuk menyosialisasikan DDR di tingkat SMP.

Maret 2014 seorang peneliti dari Joitsu University, Jepang, melakukan penelitian tentang perbandingan proses refleksi guru dalam proses Lesson Study di Jepang dan Indonesia (SD Gagas Ceria). “Hasilnya, terdapat perbedaan mendasar yang ditemukan dalam refleksi  yang dilakukan guru-guru SD Gagas Ceria karena Lesson Study di SD tersebut telah diwarnai cara berpikir DDR,” jelas Didi Suryadi.(Rdn)