FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Penyelenggaraan Bimtek Kepala Laboratorium Sekolah yang Ke-6

Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepala Laboratorium IPA (SMP) dan Biologi (SMA) yang ke-6 kalinya, di Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) UPI, selama enam hari yang dilaksanakan pada 24 - 29 Maret 2014.

Bimtek Kepala Laboratorium itu diikuti oleh sekitar 35-40 guru yang sudah menjadi Kepala Laboratorium atau yang mau menjadi Kepala Laboratorium di sekolah masing-masing. Mereka berasal dari sekolah di berbagai daerah, antara lain Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Riau, dan Kepulauan Riau.

Bimtek yang sudah dilaksanakan sejak pertengahan 2013 ini sebagai persyaratan bagi Kepala Laboratorium sekolah untuk mendapatkan sertifikat Kepala Laboratorium. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 26 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah.

Isi Permendikbud tersebut mengharuskan setiap kepala laboratorium pada semua sekolah harus memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi yang terakreditasi. Isi Permendikbud itupun diperinci lagi dengan keluarnya Permendikbud Nomor 83 Tahun 2013 Tentang Sertifikat Kompetensi, bahwa sertifikat yang dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi yang terakreditasi tersebut sesuai dengan bidang masing-masing.

Ketua Panitia Bimtek Kepala Laboratorium IPA dan Biologi Dadang Machmudin mengatakan, bahwa sertifikat dari Bimtek tersebut memiliki dua fungsi. Pertama, berfungsi bagi guru bersertifikat kompetensi yang kekurangan jam mengajar. “Untuk mendapatkan tunjangan sebesar satu kali gaji itu guru yang bersertifikat kompetensi harus memiliki jam mengajar sebanyak 24 jam. Karena masih banyak guru yang tidak dapat memenuhi beban jam mengajar itu, maka sertifikat Kepala Laboratorium bagi guru yang ditugaskan menjadi kepala laboratorium dapat membantu dalam pemenuhan jumlah jam mengajar mereka,” papar Dadang Machmudin.

Bila guru yang mendapatkan tugas sebagai kepala laboratorium yang tersertifikasi, beban jam mengajar di kelas berkurang menjadi 12 jam. “Makanya banyak guru-guru dari luar Pulau Jawa mau mengikuti Bimtek ini,” tutur Dadang Machmudin. Pendidikan Biologi UPI membatasi jumlah peserta setiap gelombangnya, maksimal 40 orang. “Kalau lebih dari itu, kita kelabakan,” ujarnya.

Kedua,  sertifikat kepala laboratirium dari Bimtek itu digunakan pula oleh pihak sekolah karena berfungsi sebagai salah satu persyaratan akreditasi sekolah. “Agar sekolah memperoleh akreditasi, syaratnya harus memiliki laboratorium dan kepala laboratorium yang tersertifikasi. Isinya lengkap atau tidak itu tergantung penilaian,” jelas Dadang Machmudin.

Ia mengatakan, pendanaan sertifikasi kepala laboratorium dengan sertifikasi guru berbeda. Bila sertifikasi guru didanai sepenuhnya oleh pemerintah, sementara sertifikasi kepala laboratorium sekolah dilakukan secara swakelola. “Dananya bisa bersumber dari guru, sekolah ataupun kedua-duanya karena guru dan sekolah sangat berkepentingan terhadap sertifikasi kepala laboratorium tersebut,” ujarnya.

Selain itu juga, lanjutnya, sertifikasi kepala laboratorium sekolah sebagai antisipasi bagi guru calon kepala laboratorium sekolah. “Karena sewaktu-waktu guru yang belum ditugaskan menjadi kepala laboratorium bisa mendapatkan tugas itu, dan mereka sudah memegang sertifikatnya,” terang Dadang Machmudin.

Menurunya, bagi guru bersertikat kompetensi menjadi kepala laboratorium sekolah lebih memungkinkan dibandingkan menjadi kepala sekolah atau wakil kepala sekolah demi dapat memenuhi beban jam mengajarnya. “Menjadi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah merupakan jalan untuk memenuhi jam mengajarnya, tapi kesempatan tersebut sangat kecil. Makanya salah satunya mendapatkan sertifikat bagi kepala laboratorium sekolah dan calon kepala laboratorium sekolah,” papar Dadang Machmudin.(Rdn)