FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Prediksi Astronomis Visibilitas (Kenampakan) Hilal Awal Syawal 1436 H/2015 M

Konjungsi/ijtimak atau lebih dikenal sebagai fase Bulan baru (new moon) yang menandai berakhirnya 1 siklus lunasi, akan terjadi pada hari Kamistanggal 16 Juli 2015 pukul 08:26 WIB (= 09:06 WITA, 10:06 WIT). Pada hari yang sama, pukul 16:26 WIB, juga merupakan waktu yang tepat untuk menyempurnakan arah kiblat mengingat saat itu Matahari sedang berada di atas Kabah di kota suci Mekah.

Wilayah geografis Indonesia yang luas, membuatnya rentan “terbelah” menjadi dua kawasan, yaitu kawasan yang berpeluang untuk dapat mengamati hilal (di tempat ini Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari) dan kawasan yang tidak berpeluang untuk mengamati hilal (di tempat ini Bulan terbenam sebelum Matahari tenggelam). Mengingat seluruh wilayah Indonesia dipandang sebagai satu wilayah hukum, maka konsekuensi atas keberhasilan mengamati hilal di suatu wilayah Indonesia akan berlaku pula di wilayah lainnya, meskipun seandainya di wilayah lain tersebut hilal tidak berhasil diamati.  

Ketinggian Bulan di seluruh wilayah Indonesia pada hari terjadinya konjungsi pada saat Matahari terbenam berkisar antara 1,300 – 2,910. Ketinggian yang dimaksud adalah ketinggian pusat piringan Bulan dari cakrawala teramati untuk elevasi pengamat 0 meter dari permukaan laut. Sementara untuk elongasi (jarak sudut) dalam rentang 5,310 – 6,430 dan umur Bulan sejak konjungsi adalah 7,17 jam hingga 10,55 jam. Bila parameter fisis Bulan   

di atas dikonfrontasikan dengan kriteria visibilitas/kenampakan hilal yang saat ini dianut Kementerian Agama RI (Kriteria MABIMS), tampak bahwa di sebagian wilayah Indonesia parameter fisis Bulan saat Matahari terbenam sudah melampaui syarat minimal untuk terlihatnya hilal. Sebagai contoh untuk kota Lhok Nga di Nanggroe Aceh Darussalam. Di kota ini saat Matahari terbenam pukul 18:58 waktu setempat, umur Bulan sudah mencapai 10 jam 33 menit (memenuhi kriteria MABIMS, minimal 8 jam sejak konjungsi). Sementara ketinggian lengkungan bawah sabit Bulan dari cakrawala dan elongasinya berturut-turut adalah 2,10 (memenuhi kriteria MABIMS, minimal 20) dan 6,40 (memenuhi kriteria MABIMS, minimal 30).

Semata-mata mendasarkan pada perhitungan astronomis belumlah menjamin bahwa hilal akan dapat diamati meskipun kriteria MABIMS dipenuhi. Perlu keterlibatan disiplin ilmu lain, seperti optika, meteorologi, bahkan fisiologi untuk dapat menghasilkan prediksi yang akurat terkait kenampakan hilal. Prediksi model matematis yang turut memperhitungkan kontribusi atmosfer dan kecerahan langit senja menyatakan bahwa hilal penentu awal Syawal mustahil dapat diamati hanya dengan menggunakan mata telanjang (visibilitas bernilai negatif dalam Gambar 1). Menariknya, prediksi dari model matematis yang sama menunjukkan bahwa hilal dapat diamati sejak tepat saat Matahari terbenam (visibilitas bernilai positif dalam Gambar 1)  dengan  syarat  pengamat menggunakan bantuan teleskop

Gambar 1.

Prediksi visibilitas hilal penentu awal Syawal 1436 H dengan memperhitungkan kontribusi serapan atmosfer dan kecerahan langit senja terhadap kecerahan hilal untuk lokasi pengamat di kota Bandung dan Lhok Nga. Nilai visibilitas positif bermakna bahwa hilal dimungkinkan untuk dapat diamati, sementara nilai visibilitas negatif sebagai ketidakmungkinan untuk mengamati hilal. Penggunaan teleskop dengan perbesaran sudut minimal 10x dalam kondisi atmosfer yang bersih mampu meningkatkan visibilitas secara signifikan.

yang mampu menghasilkan perbesaran sudut minimal 10x, kondisi atmosfer lokal yang bersih (minim aerosol guna menghadirkan atmosfer yang transparan), dan tidak ada gangguan cuaca berupa liputan awan di arah pandang hilal berada (apalagi bila sampai turun hujan). Sidang itsbat yang akan digelar pada Kamis 16 Juli 2015 selepas magrib dapat saja menolak laporan berupa kesaksian mengamati hilal dari pelapor yang hanya mengandalkan mata telanjang. Sebaliknya, laporan keberhasilan mengamati hilal dari pengamat yang menggunakan alat bantu optik dengan kondisi cuaca yang mendukung dan dilengkapi pula dengan bukti otentik berupa potret hilal Syawal akan dapat dipertimbangkan dalam sidang tersebut. Menarik untuk mencermati bersama keputusan yang akan diambil dari sidang itsbat pada Kamis yang akan datang.(Judhistira Aria Utama, M.Si./Laboratorium Bumi dan Antariksa/Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung/PICSimpul UPI, Konsorsium Pengamatan Hilal Nasional)