FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Prediksi Visibilitas Hilal Penentu Awal Ramadhan, Syawal, Dan Zulhijah 1435 H/2014 M

Visibilitas atau kenampakan hilal (Bulan sabit muda yang berhasil diamati pertama kali pascaterbenamnya Matahari) dipengaruhi oleh beragam faktor. Pada mulanya, faktor konfigurasi posisi ketiga benda langit terkait (yaitu Matahari–Bumi–Bulan) seperti elongasi, beda tinggi, dan beda azimut digunakan sebagai prediktor visibilitas. Alih-alih hanya mempertimbangkan konfigurasi geometri, dalam studi fotometri hilaltelah pula turut diperhitungkan pengaruh atmosfer dan sensitifitas alat optik (termasuk mata) yang digunakan.                                                                                                                                                                                                     

Mengadopsi model matematis visibilitas untuk objek-objek langit yang berada di dekat Matahari dari Kastner (1976), telah diperoleh prediksi visibilitas hilal penentu awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1435 H/2014 M. Prediksi diberikan untuk visibilitas hilal pada hari Jumat 27 Juni (29 Syakban 1435 H), Minggu 27 Juli (29 Ramadhan 1435 H), dan Rabu 24 September 2014 (29 Zulkaidah 1435 H) yang bertepatan dengan hari terjadinya konjungsi yang menandai berakhirnya satu siklus lunasi sebagai penanda akhir dari bulan yang sedang berjalan dalam modus pengamatan menggunakan alat bantu teleskop (Gambar 1). Dalam perhitungan modus pengamatan berbantuan teleskop ini disertakan pula sejumlah faktor koreksi teleskopik yang relevan dengan mengacu kepada hasil-hasil dalam Schaefer (1990). Prediksi juga diberikan untuk hari Sabtu 28 Juni 2014 (30 Syakban 1435 H), untuk pengamatan dengan mata telanjang (Gambar 2). Dalam perhitungan yang dilakukan dengan kedua modus pengamatan di atas, diasumsikan kondisi atmosfer setempat yang  bersih untuk lokasi pengamat di Bandung (koordinat geografis: 6,86°Lintang Selatan; 107,59°Bujur Timur di ketinggian 968 m dari permukaan laut) dengan pengaturan toposentrik (pengamat di permukaan Bumi) dan memperhitungkan faktor pembiasan oleh atmosfer. Prediksi yang dihasilkan ditampilkan dalam bentuk grafik visibilitas terhadap waktu (Gambar 1) dan grafik visibilitas terhadap sudut depresi Matahari (Gambar 2). Bila fungsi visibilitas bernilai positif, berarti kecerahan hilal pada saat tersebut telah melampaui kecerahan langit senja, yang dimaknai bahwa hilal berpeluang untuk dapat diamati selama kondisi cuaca mendukung. Sebaliknya, manakala fungsi visibilitas bernilai negatif, hal ini berarti hilal lebih redup dibandingkan kecerahan langit senja sehingga membuatnya tidak akan dapat diamati. Grafik-grafik tersebut ditampilkan berikut ini.

Gambar 1.

Visibilitas pada hari terjadinya konjungsi untuk kondisi atmosfer yang bersih di Bandung dalam pengamatan dengan bantuan teleskop untuk tanggal-tanggal terjadinya fase konjungsi. Dalam perhitungan digunakan nilai-nilai masukan (input) sebagai berikut: digunakan teleskop jenis pembias yang tersusun atas 3 lensa (6 permukaan) dengan diameter lensa objektif 66 mm dan perbesaran sudut 50x, serta usia pengamat 23 – 27 tahun.  

Dari Gambar 1 terlihat bahwa untuk visibilitas pada awal Ramadhan, Bulan sabit yang terbentuk pascakonjungsi memiliki nilai visibilitas positif sampai dengan sekitar 3 menit sebelum terbenamnya Matahari. Hal ini berarti bahwa Bulan sabit diprediksikan dapat diamati dengan bantuan teleskop dengan spesifikasi seperti disebutkan di atas hingga 3 menit sebelum Matahari tenggelam di ufuk barat. Setelah itu, nilai visibilitas berubah menjadi negatif hingga saat Bulan terbenam di Bandung (di lokasi ini, Bulan terbenam sekitar 3 menit setelah terbenamnya Matahari). Bila setelah Matahari terbenam Bulan sabit tidak dapat diamati meskipun dengan bantuan alat optik (teleskop), terlebih lagi bila pengamatan dilakukan tanpa bantuan alat (mata telanjang).  Demikian pula untuk visibilitas pada awal Zulhijah, di mana dari posisi pengamat di Bandung, Bulan sabit muda justru berpeluang untuk dapat diamati pada saat Matahari belum terbenam. Dari posisi pengamat di Bandung, dalam kasus awal Ramadhan dan Zulhijah, Bulan akan menyusul Matahari ke bawah horison dalam waktu yang relatif singkat, yaitu sekitar 3 menit sejak Sang Surya tenggelam. Sementara untuk visibilitas awal Syawal, Bulan sabit muda masih akan dapat diamati hingga 15 menit pascaterbenamnya Matahari hanya dengan bantuan teleskop. Pengamatan hilal penentu awal Syawal dengan hanya menggunakan mata telanjang, dipastikan tidak akan berhasil mengesani sosok hilal.    

Rekor Indonesiaberupa kemampuan mengesani sosok Bulan sabit pascakonjungsi sebelum terbenamnya Matahari, pertama kali ditorehkan tim pengamat dari Observatorium Bosscha pada 2012 silam yang berhasil mengabadikannya dalam format digital. Bahwa kenampakan Bulan sabit justru dapat dikesani sebelum Matahari terbenam, hal ini dapat dijelaskan karena pada saat tersebut fungsi ekstingsi atmosfer memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan saat pascaterbenamnya Matahari, selain juga bahwa perbesaran sudut teleskop membantu mengurangi kecerahan langit menjelang senja. Menarik untuk membuktikan prediksi model dalam Gambar 1 di atas karena peluang mengesani sosok hilal tersebut tidak menuntut penggunaan filter merah atau filter Bessel I untuk meningkatkan kekontrasan. Keberhasilan yang telah ditunjukkan oleh kelompok pengamat hilal Observatorium Bosscha selama ini, yaitu kemampuan mengamati hilal pada siang hari, selalu mensyaratkan penggunaan filter tersebut.

Seandainya dalam pengamatan pada Jumat 27 Juni 2014 maupun Rabu 24 September 2014 nanti terdapat bukti otentik berupa potret Bulan sabit sebelum Matahari terbenam, bukti ini tidak akan memiliki implikasi apapun dalam sidang istbat yang digelar di Kementerian Agama pada hari ke-29 di masing-masing bulan. Mengapa demikian? Hal ini karena hilal didefinisikan sebagai Bulan sabit muda yang berhasil diamati pertama kali pascaterbenamnya Matahari. Pergantian hari (day) dalam kalender Hijriyah terjadi setelah Matahari terbenam, sementara untuk pergantian bulan (month) disertai pula dengan kenampakan hilal.

Kondisi yang berbeda dengan Jumat 27 Juni 2014 dijumpai untuk pengamatan pada Sabtu 28 Juni 2014. Bagaimanapun, pengamatan pada hari Sabtu tersebut tidak lagi dalam posisi yang menentukan seperti halnya pada Jumat 27 Juni 2014, sebab hari Sabtu 28 Juni 2014 bertepatan dengan tanggal 30 Syakban 1435 H. Dalam kalender Hijriyah, umur bulan tidak akan lebih dari 30 hari. Dengan demikian, keesokan harinya sudah dapat dipastikan sebagai tanggal 1 di bulan yang baru.

Gambar 2.

Visibilitas pada 1 hari setelah terjadinya konjungsi untuk kondisi atmosfer yang bersih di Bandung dalam pengamatan tanpa bantuan teleskop (mata telanjang).Visibilitas untuk modus pengamatan mata telanjang memiliki nilai positifnya setelah pusat piringan Matahari terbenam sedalam 2,5°di bawah ufuk(senja sipil). Artinya, pengamatan dengan mata telanjang sesaat setelah Matahari terbenam pun tidak akan memberikan kenampakan sosok hilal. Perlu menunggu waktu beberapa saat sejak terbenamnya Matahari untuk membuat visibilitas bernilai positif. Visibilitas mencapai kondisi optimumnya, yang ditandai dengan nilai fungsi visibilitas terbesar di puncak kurva, pada saat pusat piringan Matahari sudah terbenam di kedalaman sekitar 10°di bawah ufuk (senja nautikal). Momen ini bersesuaian dengan 39 menit pascaterbenamnya Matahari (17:51 WIB), yaitu pada 18:30 WIB, sebelum akhirnya Bulan pun menyusul terbenam pada 18:42 WIB. Meskipun demikian, hilal diprediksikan sudah akan dapat diamati sebelum kondisi optimum di atas dicapai. Dalam jendela waktu (sekitar 40 menit) yang tersedia, hilal berpeluang untuk dapat diamati dengan mata telanjang selama cuaca mendukung.

Keputusan bilakah jatuhnya tanggal 1 Ramadhan 1435 baru akan ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama dalam sidang yang dipimpin oleh menteri agama yang dilakukan pada 29 Syakban 1435 H (Jumat 27 Juni 2014) setelah menghimpun dan mempertimbangkan hasil-hasil hisab (perhitungan model matematis) dan rukyat (pengamatan) serta saran dan pendapat dari para peserta sidang yang terdiri atas ulama, perwakilan organisasi Islam, anggota Tim Hisab Rukyat (THR), dan perwakilan negara–negara sahabat. Becermin kepada praktik selama ini, di mana pemerintah melalui Kementerian Agama menganut kriteria imkan rukyat (kriteria yang mengakomodasi metode hisab dan rukyat sekaligus), besar kemungkinan keputusan yang akan dihasilkan menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada 28 Juni 2014 setelah Matahari terbenam. Dengan demikian, umat Islam Indonesia yang mengikuti ketetapan pemerintah dan meyakininya akan memulai ibadah salat Tarawih pada Sabtu 28 Juni 2014, sementara ibadah puasa Ramadhan dilaksanakan pada keesokan harinya, Minggu 29 Juni 2014. Ketetapan yang akan dihasilkan ini tentunya berbeda dengan salah satu ormas Islam yang telah lebih dulu memberikan siaran persnya. Demikian pula, perbedaan tersebut juga sangat dimungkinkan mengemuka dalam penentuan 1 Zulhijah 1435 yang akan datang, di mana akan berimplikasi dalam penetapan tanggal 9 dan 10 Zulhijah yang bersesuaian dengan pelaksanaan wukuf dalam rangkaian ibadah haji dan perayaan Idul Adha. Sementara itu, dalam penetapan 1 Syawal 1435 H yang akan mengakhiri Ramadhan tahun ini, sangat terbuka peluang umat Islam Indonesia dapat merayakannya secara serentak.

Judhistira Aria Utama, M.Si.[1]

Laboratorium Bumi dan Antariksa

Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

PICSimpul UPI, Konsorsium Pengamatan Hilal Nasional



[1]Kontak korespondensi: j.aria.utama@upi.edu, judhistira@yahoo.com, HP. 0811 222 4036