FPMIPA >> Berita >> Detail Berita
Prof. Munir: Enam Etika TIK dalam Membangun Karakter Bangsa

Selama ini penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) masih memiliki kecenderungan ke arah permainan dan hiburan. “Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan etika penggunaan TIK dalam membangun karakter bangsa,” tutur Prof. Dr. Munir dalam pidato pengukuhan guru besar dirinya bidang TIK, di Gedung Balai Pertemuan UPI, Kamis (10/4/14).

Menurut seorang dosen TIK FPMIPA UPI ini, untuk menerapkan etika TIK dalam membangun karakter bangsa perlu diektehui terlebih dahulu prinsip yang terkadung dalam TIK. Pertama, tujuan dari teknologi informasi. “Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan kepada manusia dalam menyelesaikan masalah, menghasilkan kreativitas, dan membuat manusia lebih bermakna dan bermartabat,” terangnya.

Kedua, high tech-high touch yang bergantung pada kecanggihan teknologi tinggi. “Yang lebih penting adalah kebergantungan pada kecanggihan manusia itu sendiri,” tegas Munir. Ketiga, sesuaikan teknologi informasi terhadap manusia. “Kita sepantasnya menyesuaikan teknologi informasi kepada manusia daripada meminta manusia menyesuaikan dengan teknologi informasi,” tuturnya.

Dalam kaitan ini, kehadiran TIK dalam membangun karakter bangsa, kata Munir, bisa dimaknai dalam tiga paradigma. Pertama, TIK sebagai alat atau berupa produk teknologi yang bisa digunakan dalam membangun karakter bangsa. Kedua, TIK sebagai konten atau sebagai bagian dari materi yang bisa dijadikan isi dalam membangun karakter bangsa. Ketiga, TIK sebagai program aplikasi atau alat bantu untuk manajemen yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam membangun karakter bangsa.

“Ketiga paradigma tersebut disinergikan dalam sebuah kerangka sumber daya TIK yang secara khusus diposisikan dan diarahkan untuk mencapai visi dan misi negara dalam membangun karakter bangsa,” jelas Munir. Menurutnya, agak keliru bila TIK dipandang sebagai esensi fisik semata. “Oleh karena itu, perlu adanya suatu orientasi dalam bentuk internalisasi TIK dalam membangun tata nilai sosio-budaya masyarakat Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” paparnya.

Ia melanjutkan, bahwa berbagai strategi pemanfaatan TIK bisa dilakukan dengan mengidentifikasi enam etika pemanfaaatan TIK dalam membangun karakter bangsa. Etika pertama, kata Munir, yaitu meningkatkan mutu layanan publik kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa mengenal ras, suku, dan agama. “Sistem TIK yang dikembangkan harus mampu mengangkat harkat dan nilai-nilai kemanusiaan dengan terciptanya layanan publik yang lebih bermutu, efektif dan efisisen dari sisi waktu dan biaya,” terang Munir.

Kedua, mengatasi kesenjangan layanan pendidikan akibat kondisi geografis. “Jika hal tersebut diabaikan dapat menimbulkan disparitas mutu layanan,” ucapnya. Ketiga, mengantisipasi perubahan sosio-budaya masyarakat yang bergerak dinamis. Keempat, memupuk rasa nasionalisme untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Kelima, membangun kemandirian dan kreativitas. Keenam, membangun daya saing.

“Etika yang keenam ini telah menunjukkan, bahwa banyak data empiris potensi TIK sebagai daya ungkit bagi keunggulan suatu negara, Indonesia ditempatkan sebagai salah satu negara terbesar pengguna internet di dunia, sehingga Indonesia berpontensi untuk maju dengan TIK,” pungkas Munir.(Rdn)